musik online

Jumat, 02 November 2012

OPTIMALISASI PERATURAN DASAR UNTUK MENINGKATKAN KEAMANAN DAN KESELAMATAN DI LABORATORIUM KIMIA

OPTIMALISASI PERATURAN DASAR UNTUK MENINGKATKAN KEAMANAN DAN KESELAMATAN DI LABORATORIUM KIMIA

PENDAHULUAN
Penetapan peraturan, program, dan kebijakan untuk keselamatan dan keamanan laboratorium akan berhasil dengan baik jika pimpinan lembaga menegakkannya dan jika manajer dan pekerja laboratorium mematuhinya. Insentif diperlukan untuk memastikan bahwa orang-orang memahami dan mematuhi peraturan, program, dan kebijakan. Lembaga juga harus mengidentifi kasi hambatan terhadap keselamatan dan keamanan laboratorium kimia dan menemukan sejumlah cara untuk mengatasinya.
Setiap instansi atau setiap unit kegiatan kerja, terutama menyangkut banyak jiwa manusia, selalu harus dipikirkan pula ”keselamatannya”. Karena laboratorium adalah tempat bekerja karyawan, dosen, asisten dan mahasiswa maka perlu dipikrkan keselamatan kerja dalam laboratorium tersebut. Percobaan yang dilakukan menggunakan berbagai bahan kimia, peralatan gelas dan instrumentasi khusus yang dapat menyebabkan terjadinya kecelakaan (accident) bila dilakukan dengan cara yang tidak tepat. Guna menghindari kecelakaan kerja dan terjaga keselamatan dan kesehatan saat bekerja di laboratorium, perlu dilakukan optimalisasi peraturan dasar di laboratorium yang akan dijelaskan dibawah ini.

ISI

2.1. Peraturan Dasar di Laboratorium
Bekerja di laboratorium mempunyai resiko yang berbahaya bagi yang bekerja. Untuk meminilisir kecelakaan di laboratorium maka pekerja laboratorium haruslah mengetahui sumber-sumber bahaya, simbol-simbol tanda bahaya dan tehnik pengguanaan peralatan keselamatan kerja.
Guna menghindari kecelakaan kerja dan terjaga keselamatan dan kesehatan saat bekerja di laboratorium, perlu ditaati peraturan dasarnya. Berikut ini uraian aturan dasar bekerja di laboratorium khususnya laboratorium kimia.
1.    Bersihkan tumpahan cairan kimia secepatnya.


Sebagai contoh, merkuri (Hg) merupakan cairan kimia dengan titik didih rendah dan sangat beracun. Jika terjadi tumpahan merkuri (Hg), taburi belerang atau Chemizorb® Hg yang merupakan produk MERCK. Chemizorb® Hg berfungsi untuk menyerap merkuri atau bisa digunakan Chemizorb® serbuk atau butiran jika yang tumpahannya adalah cairan kimia.
2.    Dilarang makan maupun minum saat berada di ruang laboratorium.
3.    Dilarang merokok di dalam ruang laboratorium.
4.    Jangan berlarian di dalam ruang laboratorium.
5.    Jangan meletakkan tas dan barang lainnya di lantai laboratorium dan di tempat berjalan.
6.    Pakai peralatan pelindung diri selama di laboratorium antara lain :
  • Kacamata/goggles keselamatan yang estetis dipakai dan  bertangkai. Pilih dan pastikan optik gelas pada kacamata dalam kondisi baik.
  • Jas laboratorium. Alat ini untuk mencegah terjadinya kontaminasi atau menghindari bahaya yang terjadi akibat percikan zat-zat kimia yang berbahaya
  •  Gunakan pelindung muka pada waktu bekerja untuk bahan yang mudah meledak dan sangat berbahaya.


  • Pakai celana panjang.
  • Pakai sepatu tertutup sampai mata kaki
  • Masker atau dengan Respirators yang bisa digunakan saat bekerja dengan gas yang korosif dan beracun.
  • Sarung tangan/Gloves
  • Cek bahan dan ketebalannya.
  •  Semakin tebal bahan, semakin aman bagi sarung tangan.
  • Sering mengganti sarung tangan, makin baik.
  • Jangan memegang/menyentuh gagang pintu, pena telepon saat masih menggunakan   sarung tangan)



7.    Selalu menggunakan pipette filler dan hindari kontak langsung dengan mulut.
8.    Tidak menggunakan bekas tempat pengemasan makanan/minuman untuk menyimpan bahan kimia.
9.      Selalu memberi label/keterangan pada tempat penyimpanan bahan kimia.
10.    Jangan bereksperimen diluar Standard Operating Procedure (SOP).
11.    Selalu menggunakan indikator aliran ketika menggunakan air pendingin.
12.    Jika listrik padam, air pendingin dan aliran listrik cadangan harus dipastikan tersedia.
13.    Selalu isi buret di bawah level mata
14.    Selalu perhatikan kategori bahaya bahan kimia yang dipakai.

2.2. Peralatan dan Utilitas Keselamatan
        Selain peraturan yang harus dipenuhi, di laboatorium ini juga terdapat beberapa alat-alat keselamatan standar untuk mengurangi terjadinya kecelakaan. Alat-alat keselamatan standar yang ada di laboratorium ini adalah sebagai berikut:
  1. Masing-masing laboratorium harus memiliki satu atau lebih pancuran keselamatan, unit pencuci mata, dan pemadam api yang dapat diakses dengan mudah oleh pegawai laboratorium.
  2. Sistem penyiram (sprinkler) mungkin diperlukan dan dianjurkan. Untuk daerah dengan peralatan atau bahan peka air, pertimbangkan system pra-tindakan sebagai kebalikan dari sistem kering atau alternatif yang tidak berfungsi dengan tudung laboratorium dan ventilasi lainnya.
  3. Letakkan sakelar pematian utilitas di luar atau di jalan keluar laboratorium. Tombol pembersih ruang harus diletakkan di jalan keluar laboratorium dengan diberi tudung.
  4. Pasang banyak outlet pasokan listrik untuk mengurangi kebutuhan kabel ekstensi dan adaptor multi-steker. Letakkan panel listrik di area terjangkau. Pasang pemutus rangkaian salah arde (GFCI) di dekat wastafel dan area basah.
  5. Sediakan daya darurat yang sesuai jika terjadi pemadaman listrik.
  6.  Bila memungkinkan, pasang loop (saluran melingkar) air dingin untuk peralatan yang memerlukan pendinginan untuk menghemat energi, air, dan biaya pemasangan pipa drainase.
                                        
2.3. Kotak Sarung Tangan
       Tidak seperti tudung laboratorium, kotak sarung tangan sepenuhnya tertutup dan di bawah tekanan negatif atau positif. Kotak sarung tangan biasanya berupa unit kecil dengan beberapa sarung tangan karet sepanjang lengan, yang digunakan operator untuk bekerja di dalam. Kotak sarung tangan yang beroperasi di bawah tekanan negatif biasanya digunakan untuk bahan yang sangat beracun, jika tudung laboratorium tidak menawarkan perlindungan memadai. Prinsip dasarnya adalah tudung laboratorium akan menawarkan perlindungan hingga 10.000 kali konsentrasi berbahaya langsung dari bahan kimia itu.
      Buangan kotak sarung tangan harus disaring atau dibersihkan sebelum dilepaskan ke sistem pembuangan. Karena kotak sarung tangan dirancang dengan tingkat aliran udara sangat rendah, maka tingkat pengenceran kontaminan minimal. Karena itu, perangkat ini harus diuji kebocorannya secara rutin. Jika ditemukan kebocoran, identifi kasi dan perbaiki sumber pelepasan kontaminan sebelum melanjutkan pekerjaan apa pun. Kotak sarung tangan yang beroperasi di bawah tekanan positif mungkin digunakan untuk eksperimen yang memerlukan perlindungan dari embun atau oksigen maupun atmosfer lembam dengan kemurnian tinggi. Dalam banyak kasus, bilik diberi tekanan dengan argon atau nitrogen. Jika jenis kotak sarung tangan ini akan digunakan dengan bahan kimia berbahaya, periksa kebocoran kotak sarung tangan setiap kali sebelum digunakan. Gunakan metode untuk memantau integritas sistem, seperti katup penutup atau pengukur tekanan.

2.4. Mengurangi Paparan ke Bahan Kimia
        Berhati-hatilah untuk menghindari cara paparan paling umum: kontak kulit dan mata, penghirupan, dan pencernaan. Metode yang dianjurkan untuk mengurangi paparan bahan kimia, menurut urutan preferensi, adalah sebagai berikut:
1.    Penggantian dengan bahan atau proses yang tidak begitu berbahaya
2.    Kendali teknik
3.    Kendali administratif
4.    Peralatan pelindung diri

a)    Kendali Teknik
Kendali teknik adalah tindakan yang menghilangkan, memisahkan, atau mengurangi paparan ke bahaya kimia atau fi sik melalui penggunaan berbagai perangkat. Contohnya antara lain tudung kimia laboratorium dan sistem ventilasi lainnya, pelindung, barikade, dan interlock. Kendali teknik harus menjadi ini pertahanan pertama dan utama untuk melindungi pegawai dan properti. PPE tidak boleh digunakan sebagai lini perlindungan pertama. Misalnya, respirator pribadi tidak boleh digunakan untuk mencegah penghirupan uap jika tudung kimia laboratorium (sebelumnya disebut tudung asap) tersedia.

b)    Menghindari Cedera Mata
Pelindung mata wajib digunakan oleh semua pegawai dan pengunjung di seluruh lokasi tempat bahan kimia disimpan atau digunakan, baik seseorang benarbenar melakukan operasi kimia maupun tidak. Sediakan pelindung mata untuk semua pengunjung di pintu masuk semua laboratorium. Peneliti harus menilai risiko yang terkait dengan eksperimen dan menggunakan tingkat perlindungan mata yang sesuai. Operasi yang berisiko ledakan atau menyebabkan kemungkinan proyektil harus memiliki kendali teknik sebagai lini perlindungan pertama. Lensa kontak tidak memberi perlindungan terhadap cedera mata dan bukan merupakan pengganti kaca mata keselamatan atau kaca mata percikan bahan kimia. Lensa kontak tidak boleh digunakan jika ada kemungkinan terjadinya paparan ke uap kimia, percikan bahan kimia, atau debu bahan kimia. Lensa kontak dapat rusak dalam kondisi semacam ini.

c)    Menghindari Mencerna Bahan Kimia Berbahaya
Di laboratorium, jangan diizinkan:
  1.  makan, minum, merokok, mengunyah permen karet, menggunakan kosmetik, dan meminum obat di tempat bahan kimia berbahaya digunakan
  2. menyimpan makanan, minuman, cangkir, dan peralatan makan dan minum lainnya di tempat bahan kimia ditangani atau disimpan
  3. penyiapan atau konsumsi makanan atau minuman dalam peralatan dari kaca yang digunakan untuk operasi laboratorium
  4. penyimpanan atau penyiapan makanan di lemari es, peti es, ruang dingin,dan oven laboratorium
  5. penggunaan sumber air laboratorium dan air laboratorium demineral sebagai air minum
  6. mengecap bahan kimia laboratorium dan pemipetan dengan mulut (bola pipet, aspirator, atau perangkat mekanik harus digunakan untuk memipet bahan kimia atau memulai sifon).
  7. Cuci tangan dengan sabun dan air segera setelah bekerja dengan bahan kimia laboratorium apa pun, meski sudah mengenakan sarung tangan.

2.5. Menghindari Penghirupan Bahan Kimia Berbahaya
       Endus bahan kimia hanya dalam situasi tertentu yang terkendali. Jangan sekali-kali mengendus bahan kimia beracun atau senyawa dengan toksisitas tidak diketahui. Lakukan semua prosedur yang melibatkan zat beracun yang mudah menguap dan semua operasi yang melibatkan zat beracun padat atau cair yang dapat mengakibatkan pembentukan aerosol di bawah tudung kimia. Respirator pemurni udara harus digunakan dengan beberapa bahan kimia jika kendali teknik tidak dapat mencegah paparan.
      Pelatihan signifikan diperlukan untuk penggunaan respirator. Dalam latar terkendali, instruktur dapat meminta siswa mengendus isi wadah. Dalam kasus semacam itu, periksa dulu bahan kimia yang diendus untuk memastikannya aman. Jika diperintahkan untuk mengendus bahan kimia, perlahan arahkan uap ke hidung Anda dengan selembar kertas yang dilipat. Jangan menghirup uap secara langsung. menggunakan tudung kimia laboratorium untuk pembuangan bahan yang mudah menguap dan berbahaya melalui evaporasi. Bahan semacam itu harus diperlakukan sebagai limbah kimia dan dibuang dalam wadah yang sesuai menuut prosedur lembaga dan peraturan pemerintah.

2.6. Meminimalkan Kontak Kulit
       Kenakan sarung tangan kapan pun Anda menangani bahan kimia berbahaya, benda dengan tepi tajam, bahan yang sangat panas atau sangat dingin, bahan kimia beracun, dan zat dengan toksisitas tidak diketahui. Tidak ada satu bahan sarung tangan yang memberikan perlindungan untuk semua penggunaan.
Panduan umum berikut berlaku untuk pemilihan dan penggunaan sarung tangan pelindung:
  1. Pilih sarung tangan dengan hati-hati untuk memastikan bahwa sarung tangan tidak dapat dilalui bahan kimia yang digunakan dan memiliki ketebalan yang tepat untuk memungkinkan keterampilan yang wajar sekaligus member perlindungan penghalang yang memadai.
  2. Secara umum, sarung tangan nitril sesuai untuk kontak insidental dengan bahan kimia.
  3. Baik sarung tangan nitril maupun lateks member perlindungan minimal dari pelarut berklorin dan tidak boleh digunakan dengan asam yang beroksidasi atau korosif.
  4. Sarung tangan lateks melindungi terhadap bahaya biologis tetapi menawarkan perlindungan kurang baik terhadap asam, basa, dan sebagian besar pelarut organik. Selain itu, lateks dianggap sebagai pemeka dan memicu reaksi alergi pada beberapa individu.
  5. Sarung tangan neoprena dan karet dengan penambahan ketebalan dianjurkan untuk digunakan dengan sebagian besar bahan tajam dan berasam.
  6. Sarung tangan kulit sesuai untuk menangani peralatan dari kaca yang pecah dan memasukkan tabung ke sumbat, dimana perlindungan dari bahan kimia tidak diperlukan.
  7. Sarung tangan berinsulasi harus digunakan saat bekerja dengan bahan yang sangat panas atau sangat dingin.
  8. Jangan menggunakan sarung tangan yangsudah kedaluwarsa. Kualitas sarung  tangan menurun dari waktu ke waktu, bahkan dalam kotak yang tidak dibuka.
  9. Periksa sarung tangan untuk menemukan lubang kecil, robekan, dan tanda penurunan kualitas sebelum digunakan.
  10. Cuci sarung tangan dengan benar sebelum melepasnya. (Catatan: Beberapa sarung tangan, seperti kulit dan polivinil alkohol, dapat menyerap air. Jika tidak dilapisi dengan lapisan pelindung, sarung tangan polivinil alkohol akan  menurunkualitasnya jika terkena air.)
  11. Cuci dan periksa sarung tangan pakai ulang setiap sebelum dan setelah digunakan. Ganti sarung tangan secara berkala karena kualitasnya menurun bila sering digunakan, tergantung frekuensi penggunaan dan karakteristik perembesan dan penurunan kualitasnya relatif terhadap zat yang ditangani.
  12. Sarung tangan yang dapat terkontamisnasi bahan beracun harus dijauhkan dari area terdekat (biasanya tudung kimia laboratorium) tempat bahan kimia diletakkan. Sarung tangan ini lebih baik digunakan di luar laboratorium atau saat menangani item yang sering digunakan, seperti gagang pintu, telepon, saklar, bolpoin, dan keyboard komputer.
  13. Kenakan dua pasang sarung tangan jika satu bahan sarung tangan tidak memberi perlindungan memadai untuk semua bahaya yang ditemukan dalam operasi yang dilakukan. Misalnya, operasi yang melibatkan bahaya kimia dan benda tajam mungkin memerlukan kombinasi penggunaan sarung tangan tahan bahan kimia (butil, viton, neoprena) dan sarung tangan tidak mudah sobek (kulit, Kevlar, dll.).
  14. Jika tidak digunakan, simpan sarung tangan di laboratorium tetapi tidak di dekat bahan yang mudah menguap. Untuk mencegah kontaminasi, jangan menyimpan sarung tangan di kantor, ruang istirahat, atau ruang makan siang.
  15. Pegawai yang diketahui mengidap alergi lateks tidak boleh menggunakan sarung tangan lateks dan harus menghindari bekerja di area tempat sarung tangan lateks digunakan.

2.7. Perawatan
        Laborarotium yang rapi adalah laboratorium yang aman. Sebaliknya, laboratorium yang tidak tertata dapat memperlambat atau membahayakan lembaga tanggap darurat. Ikuti aturan perawatan berikut ini:
a.    Jangan menghalangi akses ke jalan keluar dan peralatan darurat seperti pemadam api dan pancuran keselamatan. Ikuti undang-undang kebakaran setempat untuk jalan keluar darurat, panel listrik, dan lebar lorong minimal.
b.    Bersihkan daerah kerja secara teratur, termasuk lantai, untuk mengurangi bahaya pernapasan.
c.    Beri label dengan benar dan simpan semua bahan kimia dengan rapi secara berurutan. Hadapkan label ke arah luar agar mudah dilihat. Wadah harus bersih dan bebas debu. Untuk wadah dan label yang mulai rusak, ganti, kemas ulang, atau buang di tempat yang sesuai.
d.    Kembalikan semua peralatan dan bahan kimia laboratorium ke tempat penyimpanan yang ditentukan di akhir hari.
e.    Kencangkan semua tabung gas yang dimampatkan ke dinding atau bangku.
f.    Jangan menyimpan wadah bahan kimia di lantai.
g.    Jangan menggunakan lantai, tangga, dan koridor sebagai area penyimpanan.

2.8. Membiarkan Eksperimen Tidak Dijaga dan Bekerja Sendirian
        Tidak dianjurkan untuk bekerja sendirian di bangku dalam gedung laboratorium. Pegawai yang bekerja sendiri harus melakukan pengaturan untuk memeriksa satu sama lain secara berkala atau meminta penjaga keamanan untuk memeriksa mereka. Jangan melakukan eksperimen berbahaya sendirian di dalam laboratorium. Hindari meninggalkan operasi jika memungkinkan. Tetapi, kadangkala operasi laboratorium yang melibatkan zat berbahaya harus dilakukan secara berkelanjutan atau sepanjang malam tanpa ada siapa pun. Dalam kasus tersebut, pegawai harus merancang eksperimen untuk mencegah pelepasan zat berbahaya jika layanan utilitas seperti listrik, air pendingin, dan aliran gas lembam terganggu.
        Untuk operasi yang tidak dijaga, tinggalkan laboratorium dalam keadaan menyala dan pasang tanda yang menunjukkan sifat eksperimen dan zat berbahaya yang digunakan. Bila sesuai, buat pengaturan untuk pekerja lainnya agar memeriksa operasi secara berkala. Pasang informasi yang menunjukkan bagaimana cara menghubungi orang yang bertanggung jawab jika terjadi keadaan darurat.

2.9. Menanggulangi Kecelakaan dan Keadaan Darurat
        Semua pegawai laboratorium harus mengetahui apa yang harus dilakukan dalam keadaan darurat. Setiap laboratorium harus memiliki rencana tanggap darurat tertulis yang mengatasi cedera, tumpahan, kebakaran, kecelakaan, dan keadaan darurat lainnya yang mungkin terjadi serta mencakup prosedur untuk komunikasi dan penanggulangan. Pekerjaan laboratorium tidak boleh dilakukan tanpa mengetahui rencana tanggap darurat.

2.9.1. Menangani Pelepasan Zat Berbahaya Secara Tidak Disengaja
Selalu rancang eksperimen untuk mengurangi kemungkinan pelepasan zat berbahaya secara tidak disengaja. Staf laboratorium harus menggunakan jumlah bahan berbahaya seminimal mungkin dan melakukan eksperimen sedemikian rupa sehingga, sebanyak mungkin, tumpahan apa pun tertampung. Jika terjadi tumpahan skala laboratorium secara tidak disengaja, ikuti panduan umum berikut, secara berurutan:
  1. Beri tahu pegawai laboratorium lainnya tentang kecelakaan tersebut. Dalam beberapa kasus, seperti insiden yang melibatkan pelepasan zat sangat beracun atau tumpahan yang terjadi di area selain laboratorium, mungkin tepat untuk mengaktifkan alarm kebakaran guna memperingatkan semua orang untuk mengevakuasi seluruh gedung. Hubungi lembaga tanggap darurat yang sesuai. Ikuti kebijakan lembaga Anda untuk situasi semacam itu.
  2. Bila perlu, evakuasi area. Jika gas sangat beracun atau bahan yang mudah menguap dilepaskan, evakuasi laboratorium dan tempatkan pegawai di pintu masuk untuk mencegah orang lain memasuki area yang terkontaminasi.
  3. Rawat pegawai yang cedera atau terkontaminasi dan, bila perlu, mintalah bantuan. Jika seseorang mengalami cedera atau terkontaminasi zat berbahaya, merawatnya lebih diutamakan dari menerapkan tindakan kontrol tumpahan. Cari pertolongan medis untuk orang itu sesegera mungkin dengan menghubungi lembaga tanggap darurat. Berikan salinan MSDS yang sesuai kepada dokter yang datang, bila perlu. Jika Anda tidak dapat menilai kondisi lingkungan dengan cukup Hubungi lembaga tanggap darurat dan jelaskan situasi tersebut sebaik mungkin.
  4. Lakukan beberapa langkah untuk menghalangi dan membatasi tumpahan jika hal ini dapat dilakukan tanpa risiko cedera atau kontaminasi
  5. Bersihkan tumpahan dengan prosedur yang sesuai
  6. Buang bahan yang terkontaminasi dengan benar

2.9.2.  Perangkat Pengaman Tumpahan
         Semua orang yang bekerja di laboratorium tempat zat berbahaya digunakan harus mengetahui kebijakan kendali tumpahan lembaga mereka. Untuk tumpahan non-darurat, perangkat pengendali tumpahan yang disesuaikan untuk potensi risiko bahan yang digunakan mungkin tersedia. Perangkat ini digunakan untuk menghalangi dan membatasi tumpahan jika dapat dilakukan tanpa risiko cedera atau kontaminasi. Tunjuk seseorang untuk menyimpan perangkat. Simpan perangkat tumpahan di dekat jalan keluar laboratorium agar siap diakses.

Perangkat pengendali tumpahan biasa mencakup item berikut:
  • Bantal pengendali tumpahan. Secara umum, gunakan bantal yang dijual bebas ini untuk menyerap pelarut, asam, dan alkali tajam, tetapi jangan digunakan untuk menyerap asam hidrofl orat.
  • Absorben lembam, seperti vermikulit, tanah liat, dan pasir. Kertas bukan bahan yang lembam dan tidak boleh digunakan untuk membersihkan bahan pengoksidasi seperti asam nitrat.
  • Bahan penetral untuk tumpahan asam seperti natrium karbonat dan natrium bikarbonat.
  •  Bahan penetral untuk tumpahan alkali seperti natrium bisulfat dan asam sitrat.
  • Sekop plastik besar dan peralatan lainnya seperti sapu, ember, kantung, dan pengki.
  • PPE, peringatan, pita barikade, dan perlindungan yang tepat agar tidak tergelincir atau terjatuh di lantai basah selama atau setelah pembersihan.
Dalam keadaan darurat, ikuti panduan lembaga terkait perangkat pengaman tumpahan. Penanggulangan non-darurat dapat dilakukan jika terjadi pelepasan zat berbahaya secara tidak disengaja bila zat tersebut dapat diserap, dinetralkan, maupun dikendalikan oleh pegawai terdekat atau pegawai perawatan. Keadaan darurat adalah situasi yang menimbulkan ancaman langsung terhadap keselamatan dan kesehatan pribadi, lingkungan, atau properti yang tidak dapat dikendalikan dengan aman dan mudah oleh orang yang berada di lokasi kejadian.

2.9.3. Tumpahan dengan Zat Bertoksisitas Tinggi
          Pastikan prosedur tanggap darurat, perangkat tumpahan, dan perangkat tanggap darurat mencakup zat sangat beracun. Latih semua pegawai laboratorium dalam penggunaan yang tepat. Perangkat tumpahan untuk zat beracun harus ditandai, disimpan, dan disegel untuk menghindari kontaminasi dan membuatnya mudah diakses dalam keadaan darurat. Konten penting meliputi penyerap pengendali tumpahan, penutup permukaan yang tidak dapat ditembus (untuk mencegah penyebaran kontaminasi saat melakukan langkah tanggap darurat), tanda peringatan, pembatas darurat, persediaan pertolongan pertama, dan penawar racun.
         Lakukan eksperimen dengan bahan kimia sangat beracun di daerah kerja yang dirancang untuk mengamankan pelepasan secara tidak disengaja. Gunakan baki dan jenis perangkat pengaman sekunder lainnya untuk menampung tumpahan yang tidak disengaja. Lakukan teknik secara hati-hati untuk mengurangi risiko tumpahan dan pelepasan. Pasang semua informasi toksisitas dan tanggap darurat di luar area terdekat sehingga dapat diakses dalam keadaan darurat. Latih semua pegawai laboratorium yang dapat terpapar tentang cara menanggulangi keadaan darurat semacam itu. Sesekali lakukan latihan tanggap darurat. Latihan semacam itu mungkin melibatkan pegawai kesehatan sekaligus kru pembersihan darurat.

KESIMPULAN
  1. Guna menghindari kecelakaan kerja dan terjaga keselamatan dan kesehatan saat bekerja di laboratorium, perlu ditaati peraturan dasarnya yang telah diuraikan diatas.
  2. Selain peraturan yang harus dipenuhi, di laboatorium ini juga terdapat beberapa alat-alat keselamatan standar untuk mengurangi terjadinya kecelakaan. Alat-alat keselamatan standar yang ada di laboratorium.
  3. Metode yang dianjurkan untuk mengurangi paparan bahan kimia, menurut urutan preferensi, adalah sebagai berikut: Penggantian dengan bahan atau proses yang tidak begitu berbahaya, kendali teknik, kendali administratif, peralatan pelindung diri.
  4. Laborarotium yang rapi adalah laboratorium yang aman. Sebaliknya, laboratorium yang tidak tertata dapat memperlambat atau membahayakan lembaga tanggap darurat.
  5. Semua pegawai laboratorium harus mengetahui apa yang harus dilakukan dalam keadaan darurat. Setiap laboratorium harus memiliki rencana tanggap darurat tertulis yang mengatasi cedera, tumpahan, kebakaran, kecelakaan, dan keadaan darurat lainnya yang mungkin terjadi serta mencakup prosedur untuk komunikasi dan penanggulangan.

DAFTAR PUSTAKA

Heindel Ned D, 2011, Keselamatan dan Keamanan Laboratorium Kimia, Amerika Serikat, www.nas.edu/bcst.
Lansia, 2010, Aturan Dasar dilaboratorium, http://lansida.blogspot.com/2010/09/aturan-dasar-di-laboratorium.html
Moran Lisa dan Tina Masciangioli, 2010, Keselamatan dan Keamanan Laboratorium Kimia, The National Academic Press, Washington, DC. www.qitepscience.org/resources/Chemical_IND.pdf
Tim Dosen Mata Kuliah Pengelolaan Laboratorium, (2010), Pengelolaan Laboratorium. Jurusan Kimia FMIPA Unimed, Medan.
Universitas Pekalongan, (2011), Manajemen Laboratorium., www.unikal.ac.id
Utomo, Drs. Pristiadi, Aturan Kerja Di Laboratorium, 2012, http://www.scribd.com/doc/27959115/Aturan-Kerja-Di-Laboratorium